Minggu, 02 Desember 2012

Ketika Tertimpa Musibah, Haruskah Kita Menyerah?


Judul : Hafalan Shalat Delisa
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tahun terbit : 2005
Jumlah halaman : 248

“Hafalan Shalat Delisa” adalah salah satu karya best seller dari sastrawan kondang Tere Liye. Novel ini sukses membuat namanya yang sudah terkenal menjadi lebih terkenal. Tere Liye adalah seorang laki-laki. Awalnya, dengan nama dan cara uniknya menuliskan kata-kata dalam novel, saya mengira bahwa Tere Liye adalah seorang perempuan. Hampir semua karya Tere Liye mengandung unsur kesedihan, dan dengan hebatnya ia mampu memainkan emosi para pembaca novelnya hingga berurai air mata.
Novel ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Delisa yang akan menghadapi ujian hafalan bacaan shalat di sekolahnya. Delisa dengan semangat menghafal semua bacaan shalat, apalagi dengan iming-iming hadiah kalung berliontin huruf D dari Umminya. Pada saat hari ujian, musibah dari Allah pun datang. Tsunami dahsyat menghantam kampung Delisa, dan tentu saja sekolah Delisa yang sedang mengadakan ujian hafalan shalat. Tsunami itu menyebabkan Delisa kehilangan saudara-saudaranya, teman-temannya, salah satu kakinya, dan juga Umminya. Kini Delisa hanya tinggal bersama Abinya. Di dalam kesedihan, mereka mulai membuat ‘hidup’ baru. Delisa, yang dulu belum sempat menyelesaikan ujian hafalan shalat, kini harus menghafal lagi untuk menghadapi ujian hafalan shalat dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Akhirnya ia pun berhasil shalat dengan khusyuk. Suatu saat ia berjalan-jalan hingga sampai akhirnya ia melihat sesuatu berkilau terjuntai diantara semak belukar. Sebuah kalung emas berliontin huruf D, tergenggam erat oleh tangan yang kini telah menjadi kerangka putih, tangan Ummi Delisa.
Saya sampai menangis membaca novel ini. Tere Liye dengan hebatnya menuliskan kata-kata yang menyentuh hati. Tokoh Delisa yang nakal tapi baik hati ini diceritakan dengan gaya unik sehingga terasa sangat sederhana tetapi bermakna. Ceritanya pun tidak monoton, sehingga ketika membaca buku ini saya merasa tidak sabar untuk berlanjut ke halaman-halaman berikutnya.
Apabila dibaca oleh orang awam ­yang memiliki sedikit pengetahuan tentang sastra, mungkin novel ini sedikit sulit dipahami. Bahasa yang digunakan Tere Liye kadang terlalu rumit. Saya pun kadang harus mengulang membaca sampai beberapa kali untuk mengerti maksudnya. Namun selebihnya, novel ini benar-benar membuat saya kagum. Sangat direkomendasikan kepada siapa saja untuk membaca, memahami, dan meresapi setiap patah kata dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” ini. Novel ini cocok dibaca oleh siapa saja yang membutuhkan pencerahan batin, untuk mengerti apa arti dari keikhlasan yang sesungguhnya.
***

Rabu, 27 Juni 2012

Untuk Lion

Jadi ceritanya lagi kepepet banget butuh dana buat event sekolah, dan udah capek cari uang dari jualan hahaha. Akhirnya inisiatif bikin cerpen selama dua jam (rekor untukku huhu) buat dikirim ke koran Kedaulatan Rakyat, dan alhamdulillah dimuat :') Di samping lumayan dapat uang (meskipun hanya 50.000), ternyata Bunda bangga banget, sampai cerpenku dipotong dari KRnya, terus disimpen hahaha. Nah, selamat membaca teman-teman!


Untuk Lion
Aku termenung di depan kelas. Sendiri. Ya, teman-temanku telah pulang. Angin sepoi bertiup pelan menerpa rambut panjangku.
Kembali terlintas di pikiranku sesosok lelaki yang baru saja lewat di depanku. Ia melewatiku tanpa menoleh sedikitpun. Hahaha. Itu hal yang wajar. Kami tidak saling mengenal dekat. Namun demikian, aku tahu segala hal tentangnya. Namanya Lion. Ia adalah kakak kelasku. Lelaki pendiam itu sangat mengagumkan. Entah dari segi mana aku mengaguminya. Dari segi tubuh mungilnya kah, atau malah nama anehnya. Entahlah, yang jelas aku mengaguminya, sungguh.
***
Aku telah sampai di sebuah toko perlengkapan komputer. Besok adalah hari ulang tahun Lion. Aku tahu ia menyukai segalanya tentang teknologi. Setelah beberapa saat memilih hadiah yang cocok, akhirnya aku memutuskan untuk membeli sebuah flashdisk berwarna biru dan bermotif burung pinguin. Aku tersenyum kecil.
“Lucu sekali pinguinnya, seperti Mas Lion, hihihi,” gumamku.
Setelah selesai membayar, aku mampir ke sebuah toko aksesoris untuk membeli kertas kado dan kertas untuk membuat kartu ucapan.
Untuk: Mas Lion.
Selamat ulang tahun Mas, semoga panjang umur, sehat selalu, dan semakin jago dalam bidang teknologi ya, hehehe. Semoga hadiah ini bermanfaat.
Dari: Alissa, anak kelas X.
Kuserahkan kartu ucapan, keras kado, dan flashdisk yang telah kupilih tadi kepada penjaga toko. Toko ini menjual jasa pembungkusan kado. Aku tersenyum lebar, puas dengan apa yang telah kupersiapkan untuk Lion esok hari.
***
Selamat pagi duniaaa! Hatiku bersorak.  Aku telah sampai di sekolah lebih pagi dari biasanya. Aku menunggu di depan kelas, biasanya Lion lewat sini pagi-pagi. Benar saja, lima menit kemudian Lion menampakkan batang hidungnya. Jantungku bergegup kencang. Tubuhku kaku ketika.
“Mm…Mas L…Lion!” aku memanggilnya dengan terbata-bata. Lidahku kelu.
Lion menoleh. Ia tak berkata sepatah pun. Matanya seperti ketakutan. Memang, ia lelaki pemalu.
“Mm…Mas, selam..mat uul..ang tt..tah..un,” kataku sambil menyodorkan kado yang telah kupersiapkan kemarin. Kini nafasku tersengal. Kata-kataku sungguh kacau.
Lion tak menjawab. Ia tampak aneh. Mukanya memerah. Ia seperti salah tingkah.
Aku menunduk, mukaku kacau. Lion masih saja tak menjawab. Ia malah berlari kencang meninggalkanku. Sepertinya ia takut, gugup, atau apalah.
Aku menarik kembali tanganku yang sejak tadi terulur. Aku terduduk lemas. Tanganku menggenggam erat kado spesial untuk Lion yang batal tersampaikan. Ini menyedihkan, sungguh. Aku begitu kalut, kacau. Aku tak kuasa menahan air mata. Aku terlarut dalam kesedihan yang mendalam.
Bel masuk kelas telah berbunyi. Kuusap air mataku. Kurasa sudah cukup aku menangisi kebodohanku ini. Aku tak kecewa. Boleh saja Lion tak menjawab ucapanku, namun setidaknya aku sudah berusaha mengucapkannya dari hati. Aku memasuki kelas dan mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Semuanya telah usai. Aku tak kecewa. Aku tak menyesal pernah melakukan kebodohan ini. Aku tak menyesal telah mengagumi Mas Lion. Biarlah Mas Lion tak peduli. Biarlah Mas Lion tak mengenalku, bahkan tak mengetahui namaku. Biarlah kami tetap begini. Biarlah jarak antara kami tetap ada. Biarlah hanya aku saja yang tahu tentang perasaan ini. Biarlah kusimpan perasaan ini dalam-dalam. Biarlah…
*****************

Rabu, 20 Juni 2012

Stu-Ban

Tanggal 15 Juni 2012 kemarin, sekolah kami, atau khususnya Sie Kerohanian Islam SMAN 3 Yogyakarta melakukan studi banding ke Rohis Al-Fattah SMAN 1 Bantul.
Ya, Studi Banding!

And these are what we've done:
1.) Berangkat
Setelah TM di mushola bawah An-Nur, akhirnya kami bersiap-siap berangkat dari Padmanaba tercintah menuju tempat tujuan, Bantul. Dan saat yang lainnya naik bus, aku memilih untuk naik motor. Kenapa naik motor? Karena rumahku Bantul. Jadi abis stuban bisa langsung pulang kan, nggak usah balik ke sekolah lagi hehe. Tapi setelah mereka berangkat naik bus, aku nggak langsung berangkat, nungguin Farida dulu, dia lagi.....nggak tau tuh, sibuk dengan tugas tabligh akbar. Oke, setelah lumutan nungguin Farida, akhirnya dia selesai juga, dan kita berangkat!
Di perjalanan, level ngebutnya udah parah banget. Kita udah telat banget sih, mana pake kehabisan bensin segala, fiuh -_- tapi akhirnya kita sampai di SMA 1 Bantul dengan selamat, dan nggak telat-telat banget tuh hehe.

2.) Pembukaan
Setelah kita muter-muter nggak ngerti dimana tempat pembukaannya, akhirnya kita ketemu ikhwan ganteng beralmamater yang ngasih snack dan ngasih tau dimana tempat pembukaannya. Makasih ya maaas :') halah!
Nah akhirnya kita masuk ruangan ber-AC itu, ternyata acara udah dibuka sama MC, mas Jihaduddin. Oiya, disana kita ketemu temen-temen SMP, Asri, Nada, Siti, Bella (bukan aku), Barok, Faqih, Fandi, dan lain-lain. Waaaah sekalian reuni :D
Setelah dibuka sama MC, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari ke dua sekolah. Bahkan sambutan aja terasa sangat asyik hehe.

3.) Sholat Ashar
Sholat Ashar berjamaah di Masjid Baiturrahman, dan udaranya sejuk banget! Apalagi itu kan udah sore, jadi sinar matahari nggak menyengat. Kita semua larut dalam suasana damai, sedamai ukhuwah islamiyah :)

4.) Presentasi
Abis sholat, balik lagi ke ruangan ber-AC, hehe. Inilah inti acara stuban, yaitu presentasi tentang masing-masing rohis. Dimulai dari Rohis Al-Fattah, terus dilanjutin dari SKI Al-Khawarizmi. Semuanya amazing! Suasana disana asyiiik banget. Oiya, ada sesi tanya jawab juga.

5.) Penutupan dan Foto Bareng
Nggak kerasa ya, udah jam lima aja. Akhirnya acara stuban itupun ditutup oleh MC, dilanjutkan penyerahan kenang-kenangan.
Habis itu kita foto bareng sama Rohis Al-Fattah \(^.^)/
Oh yeaaaah that's a great moment! :') Sayang sekali aku belom ada fotonya nih, kapan kapan deh aku post ;) Setelah puas foto-foto bareng, akhirnya kita harus kembali menuju habitat kita, huhu. Teman-teman harus naik bus menuju sekolah, sedangkan aku dan Farida, tinggal naik motor ke selatan 10 km huahahaha #LikeABoss

NAH! Udah gitu doang. What a simple and short meeting. Tapi itu bakalan unforgettable! It's nice to be with you SKI Al-Khawarizmi. And you, Rohis Al-Fattah, thank you so much for everything you gave, I'll miss you :')

Kamis, 14 Juni 2012

Hugo

Beda sama film 'Hugo' ya. Kebetulan banget judulnya sama. Toh cerpennya dibuat duluan sebelum filmnya release haha. Jadi ini cerpen dibuat untuk tugas Bahasa Indonesia kelas X semester 2. So, happy reading guys! :)
Hugo
Beladina Zahrina Dewi

“Bang, tunggu Bang!”
Fiuhh. Nafasku tersengal, lelah berlari mengejar angkot, namun akhirnya ketinggalan juga. Aku memutuskan untuk berangakat ke sekolah naik ojek saja.
Matahari sudah mulai bersinar terik kala aku tiba di sekolah. Lapangan tengah sudah ramai. Aku bergegas menuju ruanganku. Kudapati mejaku berantakan. Tumpukan kertas tugas berserakan membuatku jengkel, jengkel sekali.
“Ini pasti kerjaan anak-anak yang telat ngumpulin tugas,” aku berdecak, mengambil salah satu kertas dari tumpukan itu.
“Hugo lagi, Hugo lagi. Dasar nih anak, udah ngumpulinnya telat, tulisannya kayak sandi rumput pula,” aku mengomel sendirian.
Aku baru saja menduduki kursi ketika bel tanda dimulai pelajaran berbunyi. Tak menunggu lama, aku bergegas menuju ruang kelas yang mendapat jam pertama bersamaku, XII IPA C, kelas paling ramai kalau diajar.
Morning students! Before we start our lesson today, let’s say a prayer! Begin…” aku mengawali pelajaran. Betapa herannya aku ketika kulihat Hugo sibuk bermain kaki tanpa memedulikan aku yang sedang memimpin doa.
Enough…” aku mengakhiri doa.
Kuberjalan garang menuju meja Hugo. Brakk! Aku memukul meja, naik pitam pagi-pagi.
“Mr. Hugo Darmawan yang terhormat, seberapa hebatkah anda sehingga berdoa kepada Yang Esa saja tidak mau?” aku melotot, nadaku meninggi. Kelas menjadi hening. Hening sesaat.
“Ibu Guru yang cantik, bersediakah ibu menjadi pacarku?” Aku tersentak. Hugo ngebanyol, menyebalkan. Wajah konyol serta suara gombalnya itu menyebalkan sekali.
Seketika kelas itu menjadi riuh sekali akan tawa murid-murid yang geli melihat tingkah Hugo. Sedangkan aku, pipiku memerah. Malu. Semua siswa seakan lupa kalau aku ini guru mereka. Aku melotot. Dilema. Haruskah aku berteriak kencang dan memarahi Hugo? Atau aku harus pergi ke toilet dan membasuh hingga hilang segala rasa malu di wajahku ini? Emosi. HUGO! Ingin sekali aku menampar wajahnya! Aku merasa kacau.
Sekali lagi aku melotot, sedang Hugo menatapku dengan wajah penuh kemenangan. Dan… kami bertemu dalam satu pandangan! Mataku, matanya, bersatu. Matanya, mata hijau itu, menatap mataku. Aku merasa berbeda. Seketika emosiku menurun drastis. Seketika kelas menjadi hening. Seketika aku lupa akan kata-kata Hugo tadi. Seketika aku lupa bahwa aku adalah guru dan Hugo adalah murid. Aku merasa nyaman. Tuhan, aku tak sanggup berkata-kata. Lidahku kelu. Oh sungguh, janganlah momen ini berakhir begitu saja, kumohon jangan. Dan lagi, aku merasa nyaman.
“Maaf ya, Bu Icha. Saya tadi lagi latihan kaki, soalnya nanti malam saya mau ikut drummer contest,” suara Hugo memecah keheningan.
Kelas menjadi riuh lagi. Aku memalingkan wajah, lalu memulai mengajar tanpa memedulikan Hugo. Masih ada sedikit rasa jengkel di hatiku. Namun tatapan mata hijau itu…. Ah, sudahlah!
***
“Malem Bu Icha. Bu, aku masih bingung nih cara bikin kalimat pasif. Ajarin dong, Bu. Oh iya, ini Hugo, Bu.”
HUGO? Aku tersentak. Tanganku bergetar hebat setelah membaca SMS dari Hugo. Ada secercah senyum terukir di wajahku. Sedikit tidak percaya, namun akhirnya aku membalas SMS itu.
“Iya, kapan-kapan saya ajarin.”
SMSku terkirim, namun tak ada balasan lagi dari Hugo. Ada sedikit penyesalan muncul menggangguku. SMSku terlalu singkat, sehingga tak memungkinkan untuk Hugo membalasnya lagi. Aku sedikit kacau hingga tak sadar aku telah menggigiti HP bututku.
Aku merebahkan tubuh ke kasur. Akhirnya aku menyadari kebodohanku. Aku, Annisa Priyanka, guru SMA yang hampir berkepala tiga namun tak pernah berpikir untuk membangun sebuah rumah tangga; selalu bersikap tak biasa terhadap drummer bandel bermata hijau yang masih kelas tiga SMA itu. Bagaimana bisa? Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, mengusap-usap hidungku, dan membuka diaryku.
Dear Diary
Aku tak tahu. Sungguh aku tak tahu. Aku merasa nyaman setiap Hugo bersikap manis padaku. Dan aku merasa sakit setiap ia berlaku tak sesuai harapanku. Mengapa? Ia hanyalah muridku. Ia hanyalah drummer bandel yang tak suka diatur. Namun mengapa? Mengapa aku selalu memikirkannya? Mengapa aku seakan telah dibius hingga selalu terpesona dengannya? Mengapa aku peduli, peduli akan setiap kata yang ia ucapkan, setiap gerik, setiap langkah yang ia tempuh? Mengapa? Aku belum siap Ya Tuhan. Aku belum siap bergulat dengan rasa yang menurutku itu abstrak. Rasa yang kata orang-orang bisa membuat gila. Rasa yang bahkan aku sendiri pun enggan mengatakannya. Rasa yang kata anak-anak muda namanya “cinta”.
Aku menutup diaryku dengan sejuta kebimbangan. Bimbang akan perasaanku sendiri. Aku membuka jendela kamar. Membiarkan angin malam merasuki jiwaku, dan berharap aku bisa diterbangkannya menuju bulan. Aku menengadah ke atas. Berjuta bintang berkemilau berusaha menghibur diriku yang sedang berada dalam kegalauan maksimal. Bulan pun tersenyum. Malam yang indah.
***
Hari-hari berlalu begitu cepat. Ikatan antara aku dan Hugo semakin erat. Dan tahukah? Rasa yang menurutku abstrak itu kini kian menjadi-jadi, bergejolak di hati, hingga pikiran pun kini dikuasainya. Setiap detik takkan pernah terlalui tanpa memikirkan Hugo.
***
Pagi cepat sekali datang menyambut. Aku telah siap berangkat ke sekolah ketika kudapati HPku berdering.
“Bu Icha, nanti Ibu ada waktu luang nggak? Aku mau minta bimbingan cara bikin kalimat pasif, dulu kan aku udah pernah bilang. Bentar aja kok Bu.”
Lagi-lagi aku tersenyum setiap mendapat SMS dari Hugo.
“Jam tiga sore di perpustakaan ya..”
Aku membalas SMS, lalu bergegas mencari angkot untuk berangkat ke sekolah.
***
Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Hatiku bersorak. Tentu sajalah karena sebentar lagi aku akan bersama-sama dengan Hugo, walaupun hanya sebatas memberikan bimbingan. Aku bergegas menuju perpustakaan. Kutengok arlojiku, tepat pukul tiga sore ketika aku sampai di perpustakaan. Sepi. Aku menyusuri rak demi rak namun tak ada seorangpun di sana. Aku berpaling ke ruang baca. Hanya ada dua meja panjang serta kursi-kursi tertata rapi. Kuputuskan untuk mengambil beberapa novel dan membaca sembari menunggu datangnya Hugo.
Waktu begitu cepat berlalu, cepat sekali. Tak terasa satu novel sudah terbaca habis olehku. Aku menoleh, hanya ada pustakawan yang sedang sibuk mendata buku, tak ada yang lain. Kutengok arlojiku, pukul lima sore! Hugo tak datang!
“Belum pulang, Bu Icha?” pustakawan itu menegurku sembari tersenyum.
“Oh iya, Pak. Ini lagi mau pulang,” aku menjawab dan membalas senyumnya.
Tak terasa butiran bening meleleh membasahi pipi keringku. Aku tak percaya, sungguh tak percaya. Hugo tak datang. Apa maunya? Membuatku kecewa? Sebal. Marah. Kecewa. Sedih. Kuusap pipiku, lalu keluar dari perpustakaan.
“Bu Icha nggak nonton Hugo?” seseorang tiba-tiba datang menghampiriku.
“Andro? Eh, emang Hugo sekarang dimana?” aku terkaget.
“Hugo kan malem ini mau ikut drummer contest. Dari sore tadi dia latihan terus, Bu. Uh aku ikut seneng deh liat dia semangat latihan, semangat Andro ikut menggebu-gebu.
“Oh, makanya tadi saya tungguin kok nggak…”
“Ayo, Bu! Kayaknya Hugo dapat urutan ke 3,” Andro memotong kalimatku.
Di dalam mobil Andro, aku hanya diam seribu bahasa. Aku bingung dengan perasaanku. Sakit hati. Ya, tentu saja sakit hati. Aku merasa dibohongi, bahkan ditipu. Tapi apa daya, aku tidak bisa marah pada Hugo. Jelas-jelas ia membohongiku dengan alasan yang sangat rasional. Berlatih mati-matian demi membanggakan SMA tercintanya. Tapi aku, tapi hatiku, perih. Aku berusaha menghandle emosiku. Sampai akhirnya aku tak sadar bahwa aku telah tiba di Gedung Mandrovia, tempat dimana Hugo bertarung melawan para drummer hebat lainnya demi keharuman nama SMA tercinta.
“Bu Icha!!!!”
Aku menoleh. Hugo? Kulihat Hugo berlari ke arahku. Mata hijaunya mengerjap-ngerjap, bening, dan penuh kebahagiaan.
“Bu, maaf ya Bu...”
“Kamu sudah siap?” aku memotong kalimat Hugo.
Hugo tersenyum manis, manis sekali. Manis senyumnya bahkan telah mengubah hatiku yang tadinya kelam kini menjadi manis.
“Sukses ya, Go!” Andro menepuk pundak Hugo tepat saat nama Hugo dipanggil untuk menampilkan aksinya di panggung.
***
Biarkan aku saja yang tahu. Biarkan kupendam semua perasaan abstrak ini sendirian. Berikan aku kekuatan Ya Tuhan. Tentang rasa ini, bantulah aku menjaganya, bantulah aku menyimpannya. Hingga sampai saat Engkau berkehendak untuk mengambilnya dari hatiku, ambillah Tuhan. Ambillah tanpa Engkau memberi berita kepada Hugo. Aku rela Ya Tuhan.
***
Tanpa kusadari Hugo telah menyelesaikan tugasnya menghibur penonton. Aku terpukau. Mata hijaunya bersinar, sinar terang seorang bintang. Hugo tersenyum lebar, lantas menghampiriku. Ia menatapku lembut. Aku merasa nyaman akan tatapan itu. Andai tatapan itu selalu mengiringi setiap langkahku. Andai Hugo adalah milikku. Andai usia kami tak berbeda jauh. Andai status guru dan murid itu dihilangkan. Andai, andai, andai... Hugo meraih tanganku, memecah lamunanku. Ia memegang lembut tanganku. Hatiku bergetar, Ya Tuhan. Lidahku kelu. Aku ingin menangis. Aku ingin memeluknya. Hugo menggandeng tanganku dan mengajakku pergi ke suatu tempat.
“Apa maksudmu, Go?” aku mengawali pembicaraan. Hugo diam saja.
“Apa maksudmu membawaku ke tempat seperti ini?” tidak ada jawaban.
“Hugo!” nadaku mulai meninggi.
Hugo menoleh, menatap mataku. Lagi-lagi Hugo membuatku terbang. Terbang yang biasanya hanya sebentar saja, namun kini aku dibuatnya terbang hingga jauh, jauh tinggi ke langit. Hugo menatapku begitu dalam. Seakan tatapan itu merasuk ke ragaku dan menyebarkan energi positif ke seluruh tubuhku. Hugo menatapku jauh lebih dalam. Aku tak kuasa. Aku ingin merangkulnya, namun aku tak bisa. Tubuhku kaku membeku. Air mataku meleleh, aku menangis, menangis di hadapan seorang drummer bandel. Aku menjatuhkan tubuhku, tersungkur, menangis begitu dalam.
“Aku mohon sekarang kamu pergi! Tinggalin aku di sini, biarin aku menangis sendiri!”
Aku sudah terlarut dalam kesedihanku ketika sepasang tangan lembut menyentuh pundakku. Hugo, Hugo meraihku dalam peluknya. Ia memelukku erat dan hangat.
“Go, apa kamu mengerti? Apa kamu paham akan semua tingkah anehku ini?” aku menengadah menatap wajahnya. Hugo tak menjawab. Ia mengusap air mataku dengan lembut.
“Go, aku ingin jujur. Aku ingin sekali status guru dan murid di antara kita dihapus saja. Aku ingin terlahir dengan usia tak jauh berbeda denganmu. Aku...” aku tersengguk. Menangis sungguh membuatku sulit berkata-kata.
“Bu Icha yang cantik, bukankah semua perbedaan ini akan menjadi indah jika disatukan?” Hugo berkata lembut, indah sekali.
“Disatukan? Maksudmu, Go?”
“Bu Icha sudah memberiku ilmu banyak. Tahukah, Bu? Aku ingin membalas semua jasa-jasa Ibu. Namun apa daya, aku tak punya apa-apa Bu. Aku hanya punya, aku hanya punya cinta,” aku terkaget. Hugo mengucapkan kata yang bahkan aku pun tak berani mengucapkannya.
“Aku akan menghapus status guru dan murid di antara kita, sesuai keinginan Ibu,” aku melongo, kata-kata Hugo semakin susah dimengerti.
“Namun tentang perbedaan usia itu, aku nggak bisa ngapa-ngapain, Bu. Masa mau protes sama Tuhan? Hehe,” Hugo meringis, lucu sekali.
Aku tersenyum lebar dengan pipi yang masih basah. Hugo memelukku sekali lagi. Lebih erat, lebih hangat, membuatku merasa nyaman, membuatku melayang.
“Go, aku masih tak mengerti maksud kata-katamu tadi,” aku mengernyitkan dahi.
Hugo tak menjawab, ia hanya tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya padaku. Aku memejamkan mata. Kini gelap, namun aku merasakan manis. Kini gelap, namun aku merasa nyaman.
Malam gelap, bulan sendirian tanpa bintang. Angin semilir membuat rumput-rumput kecil bergoyang. Sunyi. Tak ada orang lain. Hanya aku, Hugo, dan Sang Bulan yang tenang memandangi kami sedang bercumbu. Aku, merasa, nyaman.

***************

Nah sekian. Maaf ya kalau masih banyak kurangnya, baik dari segi cerita maupun tata bahasa. Aku sadar, cerpen ini masih jauh banget dari kata 'bagus' hehehe. Well, sorry then.