Mengapa begitu bencinya aku
Pada pikir yang tak menentu
Menunggu
Hingga terbunuh oleh waktu
Dan tubuh kian mengaku
Mengapa begitu kesalnya aku
Pada hati yang merindu
Menunggu
Hingga lidah menjadi kelu
Dan bibir kian membiru
Wahai dirimu
Yang berbaju biru
Wahai dirimu
Yang tak sadar akan penantianku
Janganlah berlalu
Tanyakan lagi pada hatimu
Kepada siapa sesungguhnya, kesetiaanmu
Surakarta, 12 November 2016
Sabtu, 19 November 2016
Senin, 31 Oktober 2016
Kau Pikir
Kau pikir santai
Hidup di tepian pantai
Tiap hari menerjang badai
Menebar jaring yang terangkai
Menanti dan terus berandai
Menahan dingin hingga keringat berurai
Kau pikir santai
Benar, kau pikir itu santai
Kau pikir ringan
Hanya bermodal dandanan
Berdiri tegak seharian
Melayani setiap pelanggan
Menawarkan produk kecantikan
Mengambilkan sepatu sesuai ukuran yang dipesan
Atau di balik layar menghitung uang kembalian
Kau pikir ringan
Benar, kau pikir itu ringan
Kau pikir mudah
Tidur larut diiringi gundah
Bangun pagi biasa sudah
Dari memasak hingga mengelap lantai basah
Dari menjemur baju hingga mengantar anak sekolah
Kau pikir mudah
Benar, kau pikir itu mudah
Sayang
Kau hanya bisa memikirkan
Tanpa pernah bisa merasakan
Surakarta, 30 Oktober 2016
Beladina ZD
Hidup di tepian pantai
Tiap hari menerjang badai
Menebar jaring yang terangkai
Menanti dan terus berandai
Menahan dingin hingga keringat berurai
Kau pikir santai
Benar, kau pikir itu santai
Kau pikir ringan
Hanya bermodal dandanan
Berdiri tegak seharian
Melayani setiap pelanggan
Menawarkan produk kecantikan
Mengambilkan sepatu sesuai ukuran yang dipesan
Atau di balik layar menghitung uang kembalian
Kau pikir ringan
Benar, kau pikir itu ringan
Kau pikir mudah
Tidur larut diiringi gundah
Bangun pagi biasa sudah
Dari memasak hingga mengelap lantai basah
Dari menjemur baju hingga mengantar anak sekolah
Kau pikir mudah
Benar, kau pikir itu mudah
Sayang
Kau hanya bisa memikirkan
Tanpa pernah bisa merasakan
Surakarta, 30 Oktober 2016
Beladina ZD
Jumat, 10 Juni 2016
PSDM: A Team with Thousand Dreams
Bismillahirrahmanirrahim.
Mari bicara soal cinta. Satu syarat yang
harus kau penuhi untuk perihal ini adalah, tanggalkanlah dulu logikamu,
kemudian asah hatimu.
Sudah? Baiklah.
Jagi begini kawan, cinta adalah hadiah dari
Dia Yang Mahacinta. Maka bersyukurlah kawan, ketika kau masih bisa
merasakannya. Layaknya manusia yang beretika, maka sebuah hadiah sudah
sepatutnya untuk dijaga, apalagi jika hadiah itu adalah pemberian dari Dia Yang
Mahacinta. Maka jagalah cinta itu kawan. Jangan kau rusak, jangan kau
telantarkan, jangan pula kau gadaikan.
Cinta memang suatu perihal ajaib. Ia
seringkali membuat orang bahagia, dan memang begitu seharusnya. Banyak orang
yang bilang cinta. Banyak sekali. Namun tahukah kau, kawan? Bahwa adalah sebuah
kedustaan, bilang cinta tanpa adanya pengorbanan yang menyertai. Ya, ketika kau
mencintai sesuatu, maka kau harus berkorban untuknya. Kalau belum berkorban,
maka jangan berbual bilang cinta! Cinta adalah pengorbanan. Namun hei,
pengorbanan bukan berarti kerugian, bukan?
Oiya, apakah kau pernah merasakan cinta itu
kawan? Bagaimana rasanya? Apakah sama seperti yang sedang kurasakan? Aku
merasakan tentram berada di sekitar orang-orang yang aku cintai. Aku bahagia
bersama orang-orang ini. Awalnya orang-orang ini hanyalah sekumpulan orang yang
berkumpul dan bahu-membahu membuat sebuah karya hebat. Lalu seiring bergulirnya
waktu, aku merasakan cinta hadir di antara kami, kawan. Kedatangannya begitu
lembut, tanpa kusadari, tanpa kupaksakan. Ajaib bukan? Memang seperti itu cinta!
Mungkin sama sekali tidak masuk akal, tapi ingatlah aturan main di awal tadi,
kawan.
Dan setelah cinta itu benar-benar
menyelubungi sanubari kami, apa yang kami lakukan? Biarkan saja! Tak usah lah
berucap manis setiap kali bertemu, bilang-bilang cinta, rindu, sayang, atau
apalah. Memastikan bahwa setiap dari kami baik-baik saja itu sudah cukup. Cinta
memang tidak muluk-muluk kawan. Dan tahap tertinggi kecintaan adalah, ketika
kau sudah mampu menyebut nama-nama orang yang kau cintai dalam setiap doamu pada
Sang Mahacinta! Sudahkah kawan?
Sayangnya kawan, kami menyadari bahwa kami
saling mencintai justru ketika waktu-waktu bersama kami hampir habis. Kami baru
menyadari bahwa betapa berharganya waktu-waktu itu. Ini menyedihkan, kawan.
Andai saja kau tahu. Betapa pedihnya hati ketika harus berpisah. Namun di situ
lah kawan! Di situ kecintaanmu diuji! Jika memang cinta, maka lepaskanlah.
Karena hakikatnya cinta itu melepaskan. Semakin kuat cinta itu, maka semakin
ikhlas pula kita melepaskan. Tidak masuk akal? Ingat lagi aturan main kita di
awal.
Aku selalu bersyukur atas cinta yang hadir
di setiap pertemuan kami, kawan. Rindu rasanya. Namun hidup harus terus
berlanjut bukan? Kalau diulang-ulang ya ngapain, kurang kerjaan. Sebuah akhir
perjalanan adalah sebuah awal bagi perjalanan baru, begitu bukan teorinya? Aku
mengerti kawan, aku mengerti betul. Hanya saja, aku ingin mereka tahu bahwa,
aku mencintai mereka, bukan karena kehebatan mereka, bukan karena harta mereka,
atau karena kebaikan-kebaikan mereka, namun semata-mata hanya karena Dia, Dia
Yang Mahacinta.
16/12/15, H-1 UB Neurologi
@bzahrinad
Untuk sebuah tim hebat, empat huruf satu
cinta, PSDM.
Rabu, 04 Mei 2016
Hati Tak Berbohong
Aku tak pernah mencintaimu.
Meski padamu pikiranku.
Meski padamu peduliku.
Aku tak pernah mencintaimu.
Meski kerap hati merindumu.
Meski doa mengalir selalu untukmu.
Aku tak pernah mencintaimu.
Meski carut marut otakku memikirkanmu.
Meski karenamu perasaan jadi tak menentu.
Aku tak pernah mencintaimu.
Meski berkorban untukmu telah menjadi hobiku.
Meski berjuang bersamamu telah menjadi citaku.
Aku tak pernah mencintaimu.
Atau barangkali, aku amat mencintaimu.
Dalam heningnya malam yang bisu.
Hanya Tuhan yang tahu.
Meski padamu pikiranku.
Meski padamu peduliku.
Aku tak pernah mencintaimu.
Meski kerap hati merindumu.
Meski doa mengalir selalu untukmu.
Aku tak pernah mencintaimu.
Meski carut marut otakku memikirkanmu.
Meski karenamu perasaan jadi tak menentu.
Aku tak pernah mencintaimu.
Meski berkorban untukmu telah menjadi hobiku.
Meski berjuang bersamamu telah menjadi citaku.
Aku tak pernah mencintaimu.
Atau barangkali, aku amat mencintaimu.
Dalam heningnya malam yang bisu.
Hanya Tuhan yang tahu.
Sabtu, 23 Januari 2016
Hala Madrid!
"Jika ada hal lain yang menakjubkan di dunia ini selain cinta, adalah sepak bola." - Andrea Hirata.
Bismillahirrahmanirrahim.
Sudah bisa nebak kan apa yang akan aku bahas di post ini.
| Real Madrid |
Aku bukanlah seorang football freak yang bahkan bisa gila ketika sehari aja gak nonton bola. Aku bukanlah seorang die hard fan yang mengharuskan diriku ikut fans gathering dan nobar dimana-mana. Apalagi seorang hooligan, of course not babe. I just really like this football club! Iya, cuma modal suka kok.
Pertama kali tau sih udah lama, cuma kalo untuk 'kenal' klub ini baru kelas 9 SMP - 10 SMA lah. Aku punya seorang kakak yang madridista (fans madrid) juga, well, wajarlah kalo terinduksi. Memang awal cerita itu dari sini, semakin seringnya kakakku membahas tentang klub ini, ditambah lagi semakin sering ngepoin, nonton di TV, ya..... lama-lama jadi suka. Sesederhana itu memang. Oh ya, dan satu alasan lagi, karena beberapa pemain Real Madrid memang sudah jadi idolaku dari sononya, contohnya dulu ada Mesut Özil yang aku kenal dari Timnas Jerman. Hahaha. Sungguh sederhana bukan? Tetapi kadang rasa suka ini menggila, kawan (walaupun aku yakin masih banyak yang lebih gila), seperti rela-relain nonton UCL dini hari sendirian padahal paginya ujian, dsb. Belum lagi nanti kalo kalah, baru sampai gerbang sekolah teman-teman sudah usil ngebully. Lucu sebenarnya.
Ah memang, sepak bola itu menakjubkan, tentu saja aku tak bisa menampik itu. Lucu melihat mereka berpelukan ketika mencetak gol, geregetan ketika susah sekali mencetak gol, sedih ketika kalah, bahagia ketika menang, rasakan sensasinya kawan! Namun memang keadaan ya, kini aku tinggal di Solo, di sebuah kos, terpisah dari keluarga. Big deal, di kosku gak ada TV! Keadaan memaksaku untuk mengurangi intensitasku nonton bola. Syedih. Dan selain itu memang, dari dalam diriku sendiri ada yang mendorong untuk membatasi rasa suka ini. Karena kita tahu bukan, bahwa terlalu cinta itu tidak baik :3 Apalagi cinta yang berbau duniawi hehehe sok bijak nih, tapi serius.
Ya... Begitulah. Mungkin cintaku pada klub ini memang "harus" dikurangi, tapi sama sekali gak pernah nyesel pernah suka 💕 Dan karena Madrid, aku jadi pernah punya mimpi konyol yang ingin aku wujudkan lho. Apakah itu? Mungkin pada post-post selanjutnya akan aku bahas hehehe.
PS: In fact aku lahir di tengah keluarga yang mayoritas mengidolakan Manchester United, sehingga sejak kecil sebetulnya "dipaksa" untuk suka klub ini. Namun pada akhirnya biasa-biasa aja, malah lebih cenderung suka sama Arsenal, walaupun tak dipungkiri aku juga mengidolakan beberapa tokoh MU seperti Wayne Rooney, Ryan Giggs, dan David De Gea.
Jumat, 22 Januari 2016
Two Different Sides of Yourself
A: Everyone has the same chance!
B: It's only for they who have capabilities.
A: You are not that weak.
B: You haven't been capable yet.
A: You have to go on and take the chance.
B: Someone better than you will take that chance.
A: You're good just like the others.
B: Beda kasta!
Ever feel like that? Like you've got 2 different sides of yourself.
Seringkali, seringkali. Rasa-rasanya aku punya sejuta misi —yang menurutku baik. Bukan hanya misi untuk diriku sendiri tentunya, juga terkadang misi-misi baik untuk orang banyak. Aku akan melangkah tegar, berusaha sekuat tenaga, itu pasti. Namun sekali lagi, seringkali, ada saja perasaan-perasaan itu muncul di tengah jalan. Ya, kalau anak muda jaman sekarang menyebutnya galau. Ingin terus melangkah, tapi seakan ada saja yang menghentikan langkahku, yang tidak lain berasal dari diriku sendiri. Apa itu? Ya perasaan-perasaan tadi. Perasaan lemah, tidak pantas, dan segala macamnya.
Ya sudahlah, salah siapa.
B: It's only for they who have capabilities.
A: You are not that weak.
B: You haven't been capable yet.
A: You have to go on and take the chance.
B: Someone better than you will take that chance.
A: You're good just like the others.
B: Beda kasta!
Ever feel like that? Like you've got 2 different sides of yourself.
Seringkali, seringkali. Rasa-rasanya aku punya sejuta misi —yang menurutku baik. Bukan hanya misi untuk diriku sendiri tentunya, juga terkadang misi-misi baik untuk orang banyak. Aku akan melangkah tegar, berusaha sekuat tenaga, itu pasti. Namun sekali lagi, seringkali, ada saja perasaan-perasaan itu muncul di tengah jalan. Ya, kalau anak muda jaman sekarang menyebutnya galau. Ingin terus melangkah, tapi seakan ada saja yang menghentikan langkahku, yang tidak lain berasal dari diriku sendiri. Apa itu? Ya perasaan-perasaan tadi. Perasaan lemah, tidak pantas, dan segala macamnya.
Ya sudahlah, salah siapa.
