Tak semua orang bisa menjadi pemeran utama dalam sebuah opera. Bukan karena ketidakmampuannya, melainkan ada banyak posisi—selain pemeran utama—yang harus diisi juga. Dalam hal ini, para pemeran pendampinglah yang menjadi kunci utama.
Pemeran utama dan pemeran pendamping, saya rasa hanya masalah 'posisi main' saja. Jika sang pemeran utama posisinya di tengah depan, maka pemeran pendamping berada di belakang samping. Hanya masalah posisi saja bukan?
Bicara tentang kepentingan, keduanya tak bisa dibandingkan mana yang lebih penting. Tantangan di kedua posisi akan berbeda. Terlepas dari kekaguman saya terhadap tokoh sentralnya, para pemeran pendamping pun menginspirasi dengan caranya sendiri.
Menjadi pemeran pendamping berarti setia, setia mendampingi dan membersamai.
Menjadi pemeran pendamping berarti menguatkan di saat lemah, membantu di kala susah, melindungi meski harus berdarah, dan menenangkan hati yang gelisah.
Menjadi pemeran pendamping berarti menahan ego untuk tidak melangkah ke tengah, menahan suara agar tetap rendah, dan bersiap mental untuk tidak mendapat tepuk tangan meriah.
Alhamdulillah, saya ditantang anak-anak Kastrad Gen 4 untuk turut serta meramaikan #kissKASTRAD. Tema tulisan kali ini adalah #TokohInspiratif (disertai foto bersama tokoh tersebut).
Sebenarnya ada banyak sekali orang yang menginspirasi saya di dunia ini. Namun untuk tulisan ini, biarkan saya mengkhususkan para pemeran pendamping sebagai #TokohInspiratif. Pemeran pendamping di sini bukan hanya para pemain opera, melainkan ada banyak sekali bentuknya. Mereka bisa berwujud para pegawai kantor yang mendampingi direkturnya, asisten rumah tangga yang mendampingi majikannya, staf organisasi yang mendampingi ketuanya, ataupun para wanita pendamping hidup suaminya. Poin pentingnya bukanlah dimana posisi mereka, melainkan memainkan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya usaha, dimanapun mereka berada.
Karena untuk membuat bulan terlihat indah, mereka tak harus menjadi mataharinya, karena tak semua orang mau menjadi kegelapannya.
"Even most of important cells in our body have their own supporting cells."
#TokohInspiratif
#kissKASTRAD
#TerimaKasihHMPD
Surakarta, 10 Februari 2017.
Jumat, 10 Februari 2017
Rabu, 08 Februari 2017
Sebuah Kisah Tentang Lebah-lebah Pengganggu
Once upon a time...
Hiduplah lebah-lebah pengganggu sok sibuk, yang berkarya bersama selama tiga bulan terakhir. Lama ya. Bosen. Kzl. Mlz. Bete. Capek. Sedih. Iya, lebah pengganggu juga bisa sedih, bisa nangis juga. Tapi lebah pengganggu tetap hidup bahagia. Bahagia karena selalu bersama. Rapat dari pagi sampai malam. Bersemayam di sekre hmpd sampai elek kabeh. Bikin icebreaking hamtaro tukutuk dan tsubasa kupu-kupu. Makan di SBC terus sampai dihapal mbak kasir.
Yah, begitulah kehidupan lebah pengganggu. Mereka tetap kuat meski diterjang badai revisi rundown tiada akhir, meski di tengah perjalanan banyak yang tumbang karena sakit, meski bosen banget karena keseringan rapat kurang dolan, dan meski air mata tak kunjung habis mereka teteskan. Lebah-lebah pengganggu yakin, perjuangan mereka tidak akan sia-sia, karena sejak awal perjalanan, mereka membawa niat yang agung dan mulia.
Kini perjalanan bersama itu telah usai. Lebah-lebah pengganggu kembali ke habitat masing-masing. Bukan untuk berhenti dan menghilang dari medan perjuangan, namun untuk mengambil bekal dan kembali melanjutkan perjalanan yang lebih jauh, yang lebih melelahkan, yang lebih bikin kzl. Mereka kembali berjuang di medannya masing-masing. Mereka boleh saja berpisah, tapi cinta di antara mereka yang akan menjadi saksi bahwa mereka pernah berjuang... bersama-sama.
Tamat.
Surakarta, 21 Agustus 2016.
Wanita
"Gapapa kalau memang harus remedi. Gapapa kalau nilainya gak cumlaude. Terserah mau ikut organisasi apa aja. Terserah pengen jadi apa aja. Yang penting kamu jadi anak shalihah, nurut sama suami. Mau spesialis, mau S2, udah pokoknya besok nurut sama suami aja." -Ayah.
'Nurut sama suami...'
Sebuah kalimat yang selalu membuatku tertegun, membuatku takut bermimpi terlalu tinggi, dan tak jarang, membuatku berontak.
Tidak, wanita tidaklah lemah.
Wanita berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Bukankah dalam Islam pun, wanita diperbolehkan menentukan jumlah mahar yang harus disiapkan untuk melamar dirinya? Mengapa hanya masalah S2 atau spesialis harus 'nurut sama suami'?
Ayah, 15 tahun sudah engkau menyekolahkan aku. Pengorbananmu, pengorbanan Bunda, dan seluruh tetes keringat yang kucucurkan untuk menuntut ilmu, mengapa semudah itu ditukar dengan 'nurut sama suami'?
Ayah, sungguh, seseorang di sana yang kelak menjadi suamiku, hanyalah orang asing yang tidak mengerti tentang perjalanan mimpiku. Dia tak akan lebih paham soal rajutan harapan bertahun-tahunku. Namun mengapa tetap saja kau katakan 'nurut sama suami'?
Tidak, wanita tidaklah lemah.
Masih saja kuberontak. Wanita tidak hanya melulu soal rumah dan anak. Wanita bisa saja keliling dunia dan meninggalkan jejak.
Bunda, mengapa masih saja ada wanita yang mau mengekang dirinya sendiri, mengubur dalam-dalam sejuta mimpi, hanya untuk sekadar menyiapkan sarapan setiap pagi?
Mengapa rela tidur larut demi mengurus anak dan suami?
Mengapa harus izin ketika akan pergi?
Tidak, wanita tidaklah lemah.
Benar, wanita tidaklah lemah. Siapa pula yang bilang wanita lemah?
Wanita sangatlah kuat.
Ia kuat menahan egonya, tatkala suami melarangnya melakukan berbagai macam hobi.
Ia kuat menahan emosinya, tatkala tingkah anaknya membuatknya jengkel dan sakit hati.
Ia kuat menahan kantuknya, demi memastikan semua anggota keluarga telah terlelap dalam mimpi.
Ia kuat menahan tangisnya, demi menebar senyuman setiap hari.
Ia kuat menahan perih tangan ketika mencuci.
Ia kuat menahan panas asap ketika menanak nasi.
Wanita begitu kuat, bukan kuat menaklukkan dunia, melainkan dirinya sendiri.
Sepertinya memang begitulah fitrah seorang wanita, yang kata Ayah 'nurut sama suami'. Sungguh, bukan berarti wanita tak boleh bercita-cita tinggi. Bukanlah suatu dosa, melainkan akan begitu mulia, ketika ia memilih meniti karir meraih mimpi, atas izin suami, dan hanya semata-mata untuk meraih ridha Ilahi.
Surakarta, 8 Februari 2017
'Nurut sama suami...'
Sebuah kalimat yang selalu membuatku tertegun, membuatku takut bermimpi terlalu tinggi, dan tak jarang, membuatku berontak.
Tidak, wanita tidaklah lemah.
Wanita berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Bukankah dalam Islam pun, wanita diperbolehkan menentukan jumlah mahar yang harus disiapkan untuk melamar dirinya? Mengapa hanya masalah S2 atau spesialis harus 'nurut sama suami'?
Ayah, 15 tahun sudah engkau menyekolahkan aku. Pengorbananmu, pengorbanan Bunda, dan seluruh tetes keringat yang kucucurkan untuk menuntut ilmu, mengapa semudah itu ditukar dengan 'nurut sama suami'?
Ayah, sungguh, seseorang di sana yang kelak menjadi suamiku, hanyalah orang asing yang tidak mengerti tentang perjalanan mimpiku. Dia tak akan lebih paham soal rajutan harapan bertahun-tahunku. Namun mengapa tetap saja kau katakan 'nurut sama suami'?
Tidak, wanita tidaklah lemah.
Masih saja kuberontak. Wanita tidak hanya melulu soal rumah dan anak. Wanita bisa saja keliling dunia dan meninggalkan jejak.
Bunda, mengapa masih saja ada wanita yang mau mengekang dirinya sendiri, mengubur dalam-dalam sejuta mimpi, hanya untuk sekadar menyiapkan sarapan setiap pagi?
Mengapa rela tidur larut demi mengurus anak dan suami?
Mengapa harus izin ketika akan pergi?
Tidak, wanita tidaklah lemah.
Benar, wanita tidaklah lemah. Siapa pula yang bilang wanita lemah?
Wanita sangatlah kuat.
Ia kuat menahan egonya, tatkala suami melarangnya melakukan berbagai macam hobi.
Ia kuat menahan emosinya, tatkala tingkah anaknya membuatknya jengkel dan sakit hati.
Ia kuat menahan kantuknya, demi memastikan semua anggota keluarga telah terlelap dalam mimpi.
Ia kuat menahan tangisnya, demi menebar senyuman setiap hari.
Ia kuat menahan perih tangan ketika mencuci.
Ia kuat menahan panas asap ketika menanak nasi.
Wanita begitu kuat, bukan kuat menaklukkan dunia, melainkan dirinya sendiri.
Sepertinya memang begitulah fitrah seorang wanita, yang kata Ayah 'nurut sama suami'. Sungguh, bukan berarti wanita tak boleh bercita-cita tinggi. Bukanlah suatu dosa, melainkan akan begitu mulia, ketika ia memilih meniti karir meraih mimpi, atas izin suami, dan hanya semata-mata untuk meraih ridha Ilahi.
Surakarta, 8 Februari 2017
